Minggu, 17 Juni 2012

Hanya satu pintaku


12 Juni 2012
Menangis di kamar ketika aku menemukan fakta bahwa papa harus mengalami oper`si di bagian vital seorang manusia, jantung. Aku meraung bukan karena apa, aku ingin berada di sampingnya.

13 Juni 2012
Aku akhirnya berangkat dalam perjalanan 12 jam menanti wajah seorang ayah, aku berusaha untuk tenang dan tidak cengeng, karena setiap mengingatnya aku akan menitikkan air mata dan membayangkan hal-hal yang seharusnya tak kubayangkan. Aku sudah tau operasinya berhasil, tapi entah mengapa aku merasa sedih. Karena aku tidak terima, aku dan keluargaku tidak punya keturunan penyakit itu. nampaknya sekarang itu tak berlaku. Setelah 12 jam perjalanan aku menanti, aku dijemput dua orang sahabatku yang langsung ikut menjneguk juga. Lelahku terbayar dengan melihat wajah lemasnya, ia baru bangun tidur dan aku langsung tersenyum dan senyum itu berganti menjadi air mata, menangis aku disamping lengannya "papa jahat!" dan aku menangis.. ia hanya tersenyum dan berkata "kan udah papa bilang papa baik-baik aja, hal kecil kok dibesar-besarkan". Aku benci dia mengatakan kalimat ini. Ia bilang sudah boleh pulang. Tidak! aku menahannya hingga Jumat.

14 Juni 2012
Aku berangkat pagi-pagi ke Rumah sakit untuk mengunjunginya, aku tidak dapat tidur disana, ada pendampingnya saat ini dan anak angkatnya tidur disana, aku menginap di kosan sahabatku di Surabaya. Aku senang mereka menyambut kedatanganku dan mau ikut menjenuk papaku yang terbaring lemah, ia keras kepala, sok kuat, hanya kuat di luarnya saja, padahal sudah di pasang ring 4. Seharian aku bersamanya, kami tidur siang bersama hingga malam harinya aku bisa pergi bermain bersama temanku. Aku senang berkunjung ke Surabaya. Aku dapat 3 teman baru lagi. Rheza, Rio, dan Ika. Terimakasih.

15 Juni 2012
I hate this day!! really!! so much!!
Aku tidak tau apa yang ada di otak papa! Hari ini kami berangkat ke desa di Lumajang, desa Senduro dan itu masuh masuk-masuk lagi, dibawah kaki semeru. Aku benci harus datang ke perkampungan tempat tinggal pendampingnya sekarang. Tidak ada sinyal untukku membuang penat! aku benci! setiap orang yang datang ke sini memandangku dan menanyakan siapa aku! Aku pasang benteng dan muka terjahatku pada mereka, aku tidak suka! berharap hari cepat berlalu, aku naik motor berkeliling desa dengan adik angkatku. Malamnya ketika aku tidur, papa memperbaiki selimutku sembari memperbaiki posisi tidur adikku yang selengean itu. Papa menyelimutiku.

16 Juni 2012
Hari ini aku tak ada kerjaan, tidur seharian hingga malam menjelang, berada di kamar yang tak memiliki lampu itu. hanya untuk menembus waktu, mereka bilang tidur adalah mesin waktu terhebat untuk mempercepat jalannya waktu. Lalu, malamnya aku menikmati pisang goreng hangat sambil menonton Indonesian Idol. yah, sekedar melepas jenuh, aku bisa bertreriak dan ikut bernyanyi di dalamnya. Setelah semua orang tidur hanya aku dan papa yang menyaksikan acara itu, papa mengambil bantal dan tidur di sampingku. momen ini sudah lama sekali tidak tercipta. Papa ngomel-ngomel kenapa kompetisi seperti ini harus berdasarkan sms, haha. Lalu tiba-tiba dia bilang males nonton. Papa pergi ke kamar mengambil sesuatu. Papa mengambil sebuah rompi hangat. "Kak, dicoba." aku awalnya menolaknya karena aku tidak suka jika itu adalah milik orang lain dan aku harus memakainya. kata papa "nggak, ini tadi papa sengaja cari ukuran kakak. Pakailah, pas gak?" Tanpa perlu disuruh aku langsung memakai rompi itu dan ku lapisi lagi dengan jaketku. terimakasih papa. Lalu dia tertidur hingga aku selesai menyaksikan musik show itu.

17 Juni 2012
Tiba hari aku harus kembali ke Surabaya, aku harus meniggalkan papa. Ia berjanji akan pulang di hari Senin bersama-sama. Aku sudah membayangkan perpisahan di bandara dan aku akan menulis surat padanya malam ini. Ternyata ia bilang ia tidak pulang bersamaku di bandara, aku emrasa kehilangan perlindungan. aku sedih, aku merengut. Lalu, pagi itu aku mau keramas. Aku mau memasak air, tapi karena kompornya plus kompor kayunya dipakai aku tidak bisa memasak air mandi. Papa bertanya "kenapa? kakak gak kuat?" "iya, kupingnya suka sakit kalo terlalu dingin." Tidak lama setelah itu salah satu ibu memanggilku untuk mandi, katanya tunggu sebentar. itu bapaknya lagi masakin air." Aku terperangah. Papa, udah lama gak kayak gini ke aku. Makasi papa. setelah itu papa mengantarku ke terminal bis patas, lalu sepanjang jalan bercerita. Aku diantar naik motor dengan jarak perjalanan yang jauh, lama aku tak merasakan kasih dan perhatian langsung dari papaku. Makasi papa. Aku tiba di Surabaya. Sebelumnya, hari ini adalah Hari Ayah internasional, aku menitipkan secarik surat padanya. Begini isinya..

"Dear papa,
Pa, makasih udah bolehin adatang ke Surabaya, maaf kalo ngerepotin papa. Aku sayang papa, karena ini juga makanya aku mau ikut ke desa ini, kalo gak karena sayang papa aku gak mau sama sekali, males. Pa, walaupun papa sehat, tolong jangan keras kepala, jaga kesehatan papa, aku gak tau kapan nikah, pacaran juga belum. Aku mau papa umur panjang. Pa, jangan terlalu manjain Grace. Papa gak ingat dulu gimana papa didik aku makanya aku bisa pintar, berani, mandiri. Jujur aku cemburu liat cara papa ke Grace. Pa, makasi aku punya kenangan baru lagi. Makasi bisa nonton Ind.Idol bareng (udah lama kan gak nonton bareng), makasi udah diselimutin waktu tidur, dibeliin jaket (chiee romantis), dimasakin air mandi. Aku udah lama gaj rasain ini semua. Pa, aku dan adek-adek sayang papa. Terlebih mama. Terlebih Tuhan. I love u. God bless u."

18 Juni 2012
Sekarang aku belum menemukan tiket untuk pulang ke Bandung masih menanti. Dan aku berterimakasih juga Kepada kak Angga yang sudah menjadi penghiburku dengan cara yang aneh. Aku berterimakasih. Untuk teman-teman yang di Surabaya juga. Iloveu. Untuk yang di Bandung, berharap hujan deras karena aku terlalu merindukanmu. Aku berdoa hari ini bisa tiba di Bandung dengan selamat. terimakasih Tuhan untuk beberapa hari yang indah ini. Lama tak ku rasakan hangatnya papaku dengan keadaan keluarga seperti ini. I love u Lord. Really love You. Bersyukurlah ketika anda masih bisa merayakan ulang tahun ayah ke-65 bersama keluarga yang utuh, aku, ulang tahun ke berapapun sudah lupa bagaimana merayakannya bersama keluargaku.

Hanya satu pintaku tuk memandang langit biru di pangkuan ayah dan ibu... apabila ini hanya sebuah mimpi ku selalu berharap dan tak pernah terbangun...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar