Kamis, 14 Juni 2012

Sejenak menarik nafas


Sejenak ku hirup udara kota pahlawan dikala malam. Menyadari sesuatu yang terus ku pikirkan, apalagi kalau bukan cinta. hmm.. bukan, ini bukan sekedar masalah cinta, ini mengenai keputusan seumur hidup, ini tentang kesetiaan, ini tentang hidup dan mati, ini tentang kesucian janji, dan ini bukan SEKEDAR tentang cinta, ini tentang teman sehidup semati.

Dalam diam aku merenung, melihat teman satu-satu melepas masa lajangnya, jangan bilang karena umurku yang seperempat abad pun belum sampai sehingga aku belum pantas memikirkannya lebih dalam, aku sudah memikirkannya secara serius. ini hal penting di dalam hidupku.

Kehidupan keluargaku yang memang hancur berantakan dan menyebabkan aku kurang kasih sayang dari seorang ayah adalah salah satu alasan terbesar mengapa aku tak ingin melakukan kesalahan, ya, kesalahan seumur hidup yang jika dalam waktu beberapa menit saja aku mengucapkan kata " i do, 'til the end of my life" with wrong person and i will get my curse, ya, penyesalan seumur hidup. aku tak mau salah pilih, kalau tak salah pilih apa namanya?
Kembali melihat kehidupanku sekarang, aku kesepian, tanpa pasangan. bukan berarti aku tak pernah merasa kegirangan jika aku bersama teman-temanku, berbeda. Seperti halnya yang sering aku bilang, aku kehilangan teman diskusi. Lebih dari sekedar kebutuhan akan dikasihi dan dicintai.

Sometimes i feel... God, where's mine? i need him now..

Ketika aku benar-benar membutuhkan sebuah sosok penghibur, pelindung, penuntun, pemberi kasih sayang. 

Lalu, aku terdiam dan menarik nafas sejenak. Tuhan, dimana dia? Aku terus bertanya-tanya akan sosok dan keberadaannya. Aku bertanya-tanya apakah aku harus benar-benar mengosongkan hatiku dan melupakan cinta sehingga aku bisa benar-benar merasakan siapa yang mengasihiku. Apakah aku harus benar-benar lupa akan kebutuhan akan seseorang, jujur ini adalah tuntutan pribadi akan hal pernikahan di usia matang, aku tak ingin terlalu jauh usia dengan peri kecilku. ini idealisme ku, bukan kehendak Tuhanku. Lalu, ketika aku tak memberikan target, aku tak ingin seperti tak punya patokan. 

Aku pernah, ya pernah, hidup tanpa memikirkan cinta, dan aku mati. Aku tak dapat mencurahkan apa-apa. Aku vakum, aku vakum dalam menyiratkan sesuatu, aku vakum dalam menceriakan hari, aku vakum dalam hal memberi semangat, dan aku tak mengerti lagi apa arti ketulusan, aku tak bisa berbagi dengan sesamaku. 
Terkadang aku bingung ketika sebagian orang mengatakan untuk apa mencintai dan memberikan kasih jika ia tak membalas cintamu. Jika demikian lalu apa artinya kasih? Jika demikian adakah ketulusan? Jika demikian salahkah aku masih berharap akan cinta?

Kata orang cinta itu pengorbanan, kata orang cinta itu pengharapan, kata orang cinta itu kesetiaan, kata orang cinta itu ketulusan, kata orang cinta itu jawaban. Lalu, ketika makna dari cinta itu menghilang apalagi yang harus dilakukan? ketika cinta mengalami penolakan haruskah sampai disitu makna cinta lalu mencari pintu hati yang lain untuk menerima? Terserah kalian mau bilang ini alibi atau apalah tai kucing! ralat dalam cinta tak ada makian. Itulah cinta. Cinta tak pernah datang untuk diterima, cinta itu datang untuk memberikan kehidupan bagi orang lain. dari situlah timbul cinta. Dan inilah makna cinta yang ku tahu.

Sedikit benci.

Ah, kembali menarik nafas, ini beban. Karena aku masih harus menunggu. Tapi aku menikmati setiap proses mencintai di dalam hidupku. Mencintai itu tidak ada batasannya. Tapi, aku terus bertanya-tanya Tuhan dimana dia? Terus aku bertanya, Tuhan dimana dia. Tuhan, apakah aku harus mengosongkan hatiku agar Kau masuj dalam hatiku dan berbisik  "dia pasanganmu." atau haruskah aku bermimpi seperti teman-temanku, yang kau sampaikan cerita tentang pasangannya melalui mimpi indah mereka, dengan wajah yang samar mungkin, atau bau yang harus ku ingat, atau ada tanda-tanda lain Tuhan. Apakah aku tak melihat tanda-tanda itu? Atau Kau belum menunjukkan tanda-tanda itu.

Kepada kamu yang sampai hari ini masih ada dalam doaku, aku mencintaimu dengan harapan tanpa imbalan, aku mencintaimu untuk kebahagiaan, aku mencintaimu dengan sedikit mimpi masa depan, jika kau bukan masa depanku jangan pernah merasa bersalah atau pun serba salah, ini bukan kesalahan, ini percintaan. Jangan jadikan ini sebuah alasan untuk kau tak menerima cintaku, ini untuk kebahagiaanmu dan untuk "kenaikan kelas" dalam pelajaran kehidupanku, aku banyak belajar dalam mencintaimu. Dan jangan pernah menyangka ini semua hanya sesaat walaupun ada batas waktu yang aku siapkan.

Sejenak menarik nafas di kota pahlawan, bersama riuhnya kemesraan teman dan pacar. Aku sejenak menyedot keceriaan mereka, menyimpannya dalam ingatan dan menutup rapat-rapat rasa iri dan keinginan duniawi, aku bahagia melihat mereka, setidaknya mataku bisa melihat kanan dan kiri, walaupun aku tau hati ini masih tetap berdiri sepi. Tuhan, dimana dia?

Sejenak menarik nafas..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar