Jumat, 22 Juni 2012

Pigura Kaca

Berkeliling mengitari kubus berukuran dua kali kamarku dan melihat pigura-pigura kaca yang tergores luka tanpa nanah entah ruangan apa ini. Sebenarnya dimana aku? Berjalan tanpa henti, dengan pakaian tidur kesukaanku dan tidak menggunakan alas apapun pada kaki mungilku. Masih terdiam mengelilingi ruangan yang sejak tadi entah beberapa jam yang lalu tak habis juga ku putari, ini bagai rotasi bumi, tak berhenti. Aku memandang pada salah satu luka, tergores tak terlalu dalam, tapi ia mati.

Kembali menjejakkan kaki, aku rasa cukup malam kali ini tapi cahaya masih saja menerangi ruangan tanpa akhir ini. Terus kutapaki perlahan berharap menemukan jalan keluar, suasana tidak mencekam disini, hanya saja bagaimana jika tidak ada pintu keluarnya.

Nila. Nama yang ku baca dibawah sebuah pigura kaca paling kecil. Hatinya kecil namun penuh dengan luka dalam, kini ia mati.
Heru. Lukanya ringan tapi ada guratan-guratan yang tak terjelaskan disana, terlalu lama memendam cinta sepertinya, dan ia mati.
Kinan. Hatinya mati tanpa luka. Ia mungkin mengalihkan hatinya untuk menghindari luka.

Banyak nama dengan berbagai luka dalam pigura kaca, tanpa muka. Aku menangis melihatnya, meraung dan meneteskan air mata lagi, ada yang mati karena rindu disana, ketika yang ditemuinya hanyalah kenyataan pahit bahwa rindunya tak berbalas, rindu mengkhianatinya dengan bercinta dengan yang lain.
Setiap pigura dapat kuikuti perjalanannya, hanya dengan mengikuti irama setiap detak jantung yang ada dalam pigura itu, jadi hati itu masih berdetak, tapi mereka mati, mati untuk cinta. Seperti hati Nila yang kecil, cintanya mati untuk ayah dan ibunya. Ia menjadi pecinta wanita sekarang.

Semakin kuikuti semakin sakit kurasa, aku ingin kembali pada kenyataan, tak lagi ingin dalam bayangan. Apa-apaan ini aku tak bisa menemukan pintu keluar!
"Toloong-tolong!!"

Jeritku tak tertahan, dan aku tersentak melihat sebuah hati. Hitam. bukan karena warnanya yang hitam. Disana terdapat dunia kelam, bagaikan neraka usang yang tak lagi mau menampung para jahanam. Kuikuti detaknya.. diam.. diam..

Ku temui sebuah kisah luka dalam yang tak hilang, perlahan hilang, luka pada yahnya, tiba-tida datang tikaman dalam dari ibunya. Perlahan tapi pasti ada pembuluh darah yang pecah setelah sekian lama hati itu berbunga (entah kapan aku melihat pembuluh darah memiliki musim semi). Lalu, kembali ia berhadapan dengan cinta dan terjatuh, tak terlalu dalam, apa ini..? Menghadapi cinta lagi.
"Kenapa banyak cinta dihati ini, datang bergiliran?"
Berdarah lagi hati itu. Kali ini ia pergi merelakan masa lalu, ya, masa lalu yang tidak membawanya pada masa depan. Ketulusan menjadi alasan, ia menapaki hari bersama cinta yang baru, bukan, ia mencintai lagi. Ketulusan dan penuh doa di dalamnya, bahkan dalam setiap tidurnya doa itu terpanjat, bagai mendobrak pintu sorga meminta hati perempuan itu untuknya, ia mencintainya, bahkan dengan segala dosa-dosanya "aku cinta" kata pemilik hati itu. Perlahan tapi pasti mengapa bagian ini semakin terkoyak, ketika rindu mengkhianati. "Bukankah kisah ini sudah ada di pigura lainnya, ternyata banyak rindu yang berkhianat."

Ia melihat bagaimana satu persatu luka dalam hati itu terjahit kembali, setiap ruang yang terbuka mengalami jahitan-jahitan kasar dengan tujuan menutup hatinya, mengosongkan seluruh ruang yang menjadi bagian hidupnya. Kasar, hati itu kini kasar sekali, terlihat luka disana-sini dengan tetesan-tetesan darah sisa. Ingin aku memeluk hati itu. Erat.
Ia yang paling terluka dari semua pajangan pigura kaca ini, aku ingin menangis bersamanya, dan aku melihat hati itu terkoyak, perlahan lunglai sebelum ia mati. "Sini ku dekap!" bisikku perlahan.

Dan aku menghapus embun bening kaca pada hati itu. ku lihat namanya. Lunar. Nama hati yang akan menjadi masa depanku. Mungkin juga itu hatiku dan aku perlahan mati bersamanya melebur jadi satu dengan setiap darah yang mengalir, agar ia kembali hidup. "Apakah aku mati?"

Ku dengar semua pigura itu pecah berhamburan.. hening.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar